PERANAN ENZIM DALAM BIDAM PETERNAKAN
![]() |
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
Oleh
YOGI FATHORROHMAN
C31120718
GOL: A
Penggunaan
Enzim dalam Industri Peternakan
Alasan Penggunaan Enzim dalam Industri Pakan
Alasan utama penggunaan enzim dalam industri
pakan adalah untuk memeperbaiki nilai nutrisinya. Semua binatang menggunakan
enzim dalam mencerna makanannya, dimana enzim tersebut dihasilkan baik oleh
biantang itu sendiri maupun oleh mikroorganisme yang ada pada alat
pencernaannya. Namun demikian proses pencernaan tidak mencapai 100 % dari
bahan makanan yang dicerna, karena itu perlu ada suplemen enzim pada pakan
untuk meningkatkan efisiensi pencernaannya.
Di dalam sistem produksi
peternakan, pakan ternak menempati komponen biaya yang paling besar karena itu
keuntungan peternakan akan tergantung dari biaya reltif dan biaya nilai nutrisi
pada makanan. Ada empat alasan utama untuk menggunakan enzim dalam
industri pakan ternak (shhepy, 2001) yaitu:
Untuk memecah faktor
anti-nutrisi yang terdapat di dalam campuran makanan. Kebanyakan dari
snyawa tersebut tidak mudah dicerna oleh enzim endogeneous di dalam ternak,
dapat mengganggu pencernaan normal.
Enzim yang Digunakan dalam Industri Pakan
Terdapat
empat enzim yang sering digunakan dalam industri pakan saat ini yaitu enzim
pemecah serat, enzim pemecah protein, enzim pemecah pati dan enzim pemecah asam
pitat (Sheppy, 2001).
a. Enzim Pemecah Serat
Keterbatasan
utama dari pencernaan hewan monogastrik adalah bahwa hewan-hewan tersebut tidak
memproduksi enzim untuk mencerna serat. Pada ransum makanan ternak yang terbuat
dari gandum, proporsi terbesar dari serat ini adalah arabinoxylan dan ß-glucan
yang larut dan tidak larut (White et al.,
1983; Bedford et al., 1992 diacu oleh
Sheppy, 2001). Serat yang dapat larut dan meningkatkan viskositas isi
intestin yang kecil, mengganggu pencernaan nutrisi sehingga menurunkan
pertambahan bobot badan ternak.
Kandungan serat
pada gandum sangat bervariasi tergantung pada varietasnya, tempat tumbuh,
kondisi iklim dan lain-lain. Hal ini dapat menyebabkan variasi nilai
nutrisi yang cukup besar di dalam ransum. Untuk memecah serat,
enzim-enzim xylanase dan ß-glucanase dapat menurunkan tingkat
variasi nilai nutrisi pada ransum dan dapat memberikan perbaikan dari pakan
ternak sekaligus konsistensi responnya pada hewan ternak. Xylanase dihasilkan oleh mikroorganisme
baik bakteri maupun jamur.
Penelitian
pemanfaatan xylanase untuk membuat
ransum ayam boiler telah dilakukan oleh Van Paridon et al (1992), dengan
melihat pengaruhnya terhadap bobot badan ternak yang dicapai dan efisiensi
serta konversi makanan serta hubungannya dengan tingkat kecernaan. Hal yang
sama juga di-lakukan oleh Bedford et al
(1992), yang melaporkan bahwa ransum makanan ayam boiler yang diberi xylanase yang berasal dari T.longibrachiatum
mampu mengurangi tingkat kecernaan, sehingga meningkatkan pertambahan
bobot badan dan efisiensi konversi makanan.
Pius
P Ketaren.,dkk dari Balai Penelitian
Ternak, Bogor, juga melakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat pengaruh
suplementasi enzim pemecah serat kasar terhadap penampilan ayam pedaging. Suplementasi diberikan dengan menambahkan
enzim xylanase kedalam ransum basal
dedak atau polar. Penelitian ini menggunakan 120 anak ayam pedaging umur sehari
yang dialokasikan secara acak kedalam 20 kandang yang masing-masing berisi 6
ekor. Ayam-ayam tersebut diberi 4 perlakuan. Perlakuan I, ayam diberi ransum
basal 30% dedak (RBD). Perlakuan II, ransum RBD + 0,01% enzim xilanase (RBD +
E). Perlakuan III diberi ransum basal 30% polar (RBP) dan perlakuan IV dengan
ransum RBP + 0,01% enzim xilanase (RBP + E). Setiap perlakuan diulang 5 kali
dan tiap ulangan terdiri dari 6 ekor. Seluruh kandang/pen ditempatkan dalam
bangunan tertutup yang dilengkapi dengan lampu penerang, pemanas dan pengatur
sirkulasi udara, yang diatur sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan ransum dan air
minum disediakan secara tak terbatas. Anak ayam juga divaksin pada umur 4 dan
21 hari untuk mencegah ND dan pada umur 14 hari untuk mencegah Gumboro.
Konsumsi ransum, pertambahan bobot badan (PBB), feed conversion ratio (FCR)
dan mortalitas digunakan sebagai parameter dan diukur setiap minggu selama 5
minggu perlakuan.
Hasil
riset memperlihatkan PBB ayam pedaging yang diberi ransum basal polar dengan
suplementasi enzim cenderung tumbuh lebih cepat dibanding ayam pedaging yang
memperoleh ransum lain. Dalam penelitian ini, suplementasi enzim xylanase sebanyak 0,01% kedalam ransum
basal dedak maupun polar tidak berpengaruh negatif terhadap penampilan broiler.
Hal ini tampak dari tidak adanya mortalitas selama penelitian berlangsung. FCR ayam pedaging yang diberi ransum
basal polar dengan suplementasi enzim secara nyata lebih baik dibanding ransum FCR ayam pedaging yang diberi ransum lain.
Berdasarkan
penampilan ayam pedaging tersebut terlihat bahwa suplementasi enzim kedalam
ransum basal polar mampu meningkatkan efisiensi penggunaan ransum sekitar 4%,
sebaliknya suplementasi enzim kedalam ransum basal dedak tidak mampu
memperbaiki efisiensi penggunaan ransum ayam pedaging. Ini membuktikan bahwa
enzim xylanase yang digunakan dalam
penelitian ini lebih efektif apabila digunakan pada polar, yang diketahui
mengandung lebih banyak xylan/pentosan
atau glucan dibanding dedak. peningkatan penampilan ayam
pedaging yang diberi ransum basal polar dengan suplementasi enzim xylanase ini, kemungkinan juga berkaitan
dengan peningkatan kecernaan protein dan lemak disamping kenaikan kecernaan
serat kasar.
b. Enzim Pemecah Protein
Berbagai bahan
mentah yang digunakan sebagai bahan pakan ternak mengandung protein.
Terdapat variasi kualitas dan kandungan protein yang cukup besar dari
bahan mentah yang berbeda. Dari sumber bahan protein primer seperti
kedelai, beberapa faktor anti nutrisi seperti lectins dan trypsin
inhibitor dapat memicu kerusakan pada permukaan penyerapan, karena
ketidaksempurnaan proses pencernaan. Selain itu belum berkembangnya
sistem pencernaan pada hewan muda menyebabkan tidak mampu menggunakan simpanan
protein yang besar di dalam kedelai (glycin
dan ß-conglycinin).
Penambahan
protease dapat membantu menetralkan pengaruh negatif dari faktor anti-nutrisi
berprotein dan juga dapat memecah simpanan protein yang besar menjadi molekul
yang kecil dan dapat diserap.
c.
Enzim pemecah Pati
Jagung
merupakan sumber pati yang sangat baik sehingga para ahli gizi menyebutnya
sebagai bahan mentah standard emas. Sebagian besar ahli gizi tidak
mempertimbangkan pencernaan jagung yang jelek, kenyataannya bahwa 95 %
dapat dicerna. Namun hasil penelitian Noy., et al (1994) yang diacu oleh Sheppy (2001), pati hanya dicerna
tidak lebih dari 85 % pada ayam broiler umur 4 dan 21 hari. Penambahan
enzim amylase pada makanan ayam dapat
membantu mencerna pati lebih cepat di intestin yang kecil dan pada gilirannya
dapat memperbaiki kecepatan pertumbuhan karena adanya peningkatan pengambilan
nutrisi.
Pada masa
aklimatisasi, anak ayam sering menderita shok karena perubahan nutrisi,
lingkungan dan status imunitasnya. Penambahan amylase, biasanya juga bersamaan dengan penambahan enzim lain,
untuk meningkatkan produksi enzim endogeneous
telah terbukti dapat memperbaiki pencernaan nutrisi dan penyerapannya.
d. Enzim Pemecah Asam pitat
Fosfor merupakan unsur esensial untuk semua
hewan, karena diperlukan untuk mineralisasi tulang, imunitas, fertilitas dan
juga pertumbuhan. Unggas hanya dapat mencerna fosfor dalam bentuk asam
pitat yang terdapat dalam sayur sekitar 30-40 %. Phospor yang tidak dapat
dicerna akan keluar bersama kotoran (feces)
dan menimbulkan pencemaran.
Enzim phytase dapat memecah asam pytat, maka
penambahan enzim tersebut pada pakan ternak akan membebaskan lebih banyak
phospor yang digunakan oleh hewan.
Enzim phytase banyak dikenal dapat
menghilangkan pengaruh anti nutrisi asam pitat. Penggunaan enzime phytase dalam pakan akan
mengurangi keharusan penambahan sumber-sumber fosfor anorganik
mengingat fosfor asal bahan baku tumbuhan terikat dalam asam pitat yang
mengurangi ketersediaannya dalam pakan Padahal suplementasi fosfor anorganik
misalnya mengandalkan di kalsium fosfat maupun mono kalsium fosfat relatif
mahal belakangan ini. Di samping itu, fosfor yang terikat dalam asam pitat yang
tidak bisa dicerna sempurna oleh sistem pencernaan hewan monogastrik akan ikut
dalam feses dan menjadi sumber polutan yang berpotensi mencemari tanah. Fosfor
tidak terurai dalam tanah sehingga dalam jangka panjang, pembuangan feses
dengan kandungan fosfor tinggi akan menimbulkan masalah bagi tanah.







1 comments:
Halo, saya Helena Julio dari Ekuador, saya ingin berbicara tentang Layanan Pendanaan Le_Meridian tentang topik ini.Le_Meridian Layanan Pendanaan memberi saya dukungan keuangan ketika semua bank di kota saya menolak permintaan saya untuk memberi saya pinjaman 500.000,00 USD, saya mencoba semua yang saya bisa untuk mendapatkan pinjaman dari bank-bank saya di sini di Ekuador tetapi mereka semua menolak saya karena kredit saya rendah tetapi dengan rahmat Tuhan saya jadi tahu tentang Le_Meridian jadi saya memutuskan untuk mencoba mengajukan permohonan pinjaman. dengan insya Allah mereka memberi saya pinjaman 500.000,00 USD permintaan pinjaman yang ditolak bank-bank saya di sini di Ekuador, sungguh luar biasa melakukan bisnis dengan mereka dan bisnis saya berjalan dengan baik sekarang. Berikut adalah Email Investasi Pendanaan Le_Meridian / Kontak WhatsApp jika Anda ingin mengajukan pinjaman dari mereka.Email:lfdsloans@lemeridianfds.com / lfdsloans@outlook.comWhatsApp Contact: 1-989-394-3740.
Post a Comment